Rabu, 19 Januari 2011



One focus in the study of political economy is to understand power in their interactions with economic phenomena. In a market concept closely related to the idea that individuals can select and make contracts voluntarily. Market and the buyer is a structure that stands independently. Both run on their own purpose.
Markets are often understood as a group of people. For such reasons, then the opportunities in the market is not sufficient. Economic perspective in such a concept, will contradict with the concept of power in two meanings. First, market participants can make a voluntary choice, but they are limited by given factors such as factors of production, technology, factors of production, technology and the choice made by other actors. Thus, the choice owned limited number of market participants. Market participants can accept or reject a transaction. result of choice, between receiving or rejected, was not strong enough for the advantages and disadvantages of market participants. This occurs because, in fact, gains or losses are not only achieved from a single transaction only.
By the properties of such market, the economic behavior can be analyzed as a mutually beneficial exchange. Thus reinforced by the nature of Pareto optimization criteria. An exchange is said to have advantages Pareto (Pareto-superior) if the exchange is one or more be better off without harming others.
The exchange is also advantageous in terms involved in these transactions.
The use of Pareto optimality standards and original power factor can not avoid separately as a factor in political economy. Pareto optimization criterion allows everyone to avoid a loss. Such concepts as well as ignoring the factor of power. The reason, the potential power of the aggrieved actor.
For the adherents of the theory of market capitalism, the rule should not be there in the market mechanism. Power is not desirable and should be inhibited involvement in market mechanisms.
In recent years, the term "political economy" was used by several thinkers to mention the relationship between market power. For example, Robert Keohane states that "when in a economic, principals apply power to one another, then it is political economy." More radical statement put forward by the radical economist, that economic capitalist market is a system of power.

Interpretation of Powers
The most common definition of power is that the view that power is our ability to achieve our goals in this world. Power is a form of disclosure of the idea that to achieve a goal, then we must do something to influence and change the world around us. In an effort towards it, often we are faced with many obstacles.
Obstacles and difficulties is an important factor in defining the concept of power. Max Weber in his book "Economy and Society defines power as" the probability that an actor in social relations capable of carrying out his own will, even with many obstacle, without heed for elementary-elementary probability to determine it." However, the factor of resistance is not a necessary condition. In power, barriers can arise from self and also from outside. The absence of obstacle can also shape social and political institutions.
In summary there are three kinds of power, namely: the power to reach the goal by defeating nature, the power of others and power with others.

Interpretation of Interest
Power closely related with interests. Relations between them are very complex. In the perspective of Weber, a capitalist is not the sole holder of interests. He was only as the executor (steward) of the interests of others.
In the view of economists, the interest will be automatically translated into a choice. Furthermore, the selection automatically becomes a decision about which of the alternatives that are available to be selected. If someone makes a choice freely, it can be concluded that the choice was based on their interests. There is no compulsion for these choices. The concept of such interest is referred to as "direct interest" (direct interest). In terms Flathman called Subjective interests, and Lukes call with behavioral interest. The concept of interest like this is suitable for the concept of a simple rule.
The concept of the interests of both called with the real interests or objective. Connolly said that the real interests are the interests that formed due to awareness of oneself (self-awareness) and the choices made with full information (fully informed choice).
Power and Market Economy
One of the contributions of the capitalistic market economy is its ability to grow the wealth of society. When the wealth of society grows, the individual's needs will be met. Increased wealth can be defined as well as increased power in the sense of a direct interest (direct interest). Wealth-shaped objects that can satisfy the requirement. That way, the property gives us the power to achieve something.
Here are three examples of the wealth that gives power. Owned companies to market forces, (2) the labor contract, (3) relations of production within the company. The first two examples, look at the power authority with actor-based approach (agency-oriented view) where the very foundations of structure of power subject to the strategic actions of the powerful. While the third case is an example for the production relations within the company, further highlight the role of structure in the making of labor depends on the capital so that the role of the perpetrator to be reduced.
In general, power and economy are two separate entities. There's even the fact that they negated each other. The proof is in The New Palgrave: A Dictionary of Economics, a dictionary of economics can not find one word about power. Still, the idea to construct a political economy based on the concept of power and wealth is something interesting.
 In a study of neoclassical economics sought to limit its focus on the efficient exchange so that far too difficult to discuss the study of power. In general, the neo-classical economic thinkers tend to avoid the term "power" (power). If anything, it is merely talk about power in the sense of power over others with a focus on efficiency is reduced. But with this strategy, the neo-classical economics can no longer shift into the science of allocation efficiency.

Minggu, 16 Januari 2011

Kekuasaan Dalam Teori Politik

Dalam ilmu politik, konsep kekuasaan merupakan inti dari politik. Oleh karena itu para sarjana ilmu politik lalu mendefinisikan politik sebagai semua kegiatan yang berkaitan dengan memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan. W.A Robson, misalnya, mengatakan bahwa ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar, proses-proses, ruang lingkup dan hasil-hasil. Fokus perhatian tertuju pada perjuangan untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain, atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu.[1]
Tentang pengertian kekuasaan, para sarjana mencoba memberikan batasan. Robert M. Mac lver, misalnya, mengatakan bahwa kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain, baik secara langsung dengan jalan memberi perintah, maupun secara tidak langsung dengan mempergunakan segala alat dan cara yang tersedia.[2]
Charles F. Audrain mendefinisikan kekuasaan sebagai penggunaan sejumlah sumber daya (aset, kemampuan) untuk memperoleh kepatuhan (tingkah laku menyesuaikan) dari orang lain.[3] Sedangkan Miriam Budiardjo mengartikan kekuasaan sebagai kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan atau tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu.[4]
Kekuasaan dapat dibedakan dengan kewenangan. Hal ini karena meski kewenangan adalah kekuasaan, tetapi kekuasaan tidak selalu berupa kewenangan. Kewenangan merupakan kekuasaan yang memiliki keabsahan, sedangkan kekuasaan tidak selalu memiliki keabsahan. Kekuasaan merupakan gejala yang lumrah dan terdapat dalam setiap masyarakat, dalam semua bentuk hidup bersama. Ini karena setiap manusia mempunyai bermacam-macam keinginan dan tujuan yang ingin sekali dicapainya. Untuk itu perlu pemaksaan kemauan atas orang atau kelompok lain. Di sini lalu muncul kekuasaan.
Seseorang atau sekelompok orang agar dapat memiliki kekuasaan harus memiliki sumber daya kekuasaan. Sumber daya kekuasaan itu dapat berupa kedudukan, kekayaan, kepandaian atau keterampilan, dan kepercayaan atau agama.[5] Dalam kaitan dengan sumber kekuasaan kepercayaan atau agama, Miriam Budiardjo mengatakan bahwa:
Di desa sering kali alim ulama atau pendeta mempunyai kekuasaan atas umatnya sehingga mereka dianggap sebagai pemimpin informal, yang perlu diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan di desa itu. Dalam negara-negara yang masih banyak unsur tradisionalnya, hubungan kerabat dapat pula merupakan sumber kekuasaan.[6]

Sedangkan menurut Charles F. Andrain, sumber daya kekuasaan itu terdiri atas sumber daya fisik, ekonomi, keahlian, normatif dan personal.[7] Dengan sumber-sumber daya itu membuat orang atau kelompok dapat mempengaruhi orang atau kelompok lain.


Tabel 1.1. Tipe-Tipe Sumber Daya Kekuasaan

Tipe Sumber Daya
Contoh Sumber Daya
Motivasi untuk Mematuhi
Senjata: senapan, bom, rudal, senjata
B berusaha menghindari cidera fisik yang dapat disebabkan oleh A
Kekayaan, pendapatan, kontrol atas barang dan jasa
B berusaha memperoleh kekayaan dari A
Moralitas, kebenaran, tradisi, religius, legitimasi, wewenang
B mengakui bahwa A mempunyai hak moral untuk mengatur perilaku B
Personal \
Kharisma pribadi, daya tarik, persahabatan, kasih sayang, popularitas
B mengidentifikasikan diri — merasa tertarik—dengan A
Informasi, pengetahuan, intelenjensi, keahalian teknis.
B merasa bahwa A mempunyai pengetahuan dan keahlian yang lebih.
Sumber : Andrain, Kehidupan Politik dan Peubahan Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992 hal. 132.

Dalam bagian lain, Charles F Andrain mengemukakan bahwa sumber kewenangan seseorang atau kelompok untuk memerintah dapat berasal dari : (1) hak memerintah berdasarkan dan tradisi, yaitu kepercayaan yang telah berakar dipelihara terns menerus dalam masyarakat; (2) hak memerintah berasal dari Tuhan, Dewa, atau Wahyu. Kewenangan memerintah berasal dari kekuatan yang sakral; (3) hak memerintah berasal dari kualitas pribadi sang pemimpin, baik penampilannya yang agung dan dirinya yang populer maupun karena memiliki kharisma; (4) hak memerintah berasal dari sumber yang bersifat instrumental, seperti keahlian dan kekayaan; dan (5) hak memerintah berasal dari peraturan perundang-undangan yang mengatur prosedur dan syarat-syarat menjadi pemimpin pemerintahan.[8]
Sedangkan menurut Weber kekuasaan di bagi menjadi tiga bentuk yaitu: kekuasaan legal-formal, kekuasaan kharismatik, dan kekuasaan tradisional. Kekuasaan legal formal didasarkan pada komitmen terhadap seperangkat peraturan yang diundangkan secara resmi dan diatur secara impersonal. Dengan kata lain, kekuasaan legal-rasional adalah kekuasaan yang sah berdasarkan peraturan yang ada di mana ia memiliki posisi tersebut. Mereka yang tunduk dan patuh karena posisi sosial yang dimiliki itu didefinisikan menurut peraturan sebagai yang harus tunduk. Jadi, peraturanlah yang membuat orang itu patuh dan tunduk, bukan dengan orang yang kebetulan menduduki posisi itu.[9]
Kekuasaan kharismatik didasarkan pada mutu luar biasa yang dimiliki pemimpin itu sebagai seorang pribadi yang memiliki daya tarik sehingga memberikan inspirasi pada mereka yang bakal menjadi pengikutnya. Asal-usul istilah ini erat kaitannya dengan teologi. Mereka, para pemimpin agama, memiliki kharismatik karena kepemimpinan mereka didasarkan kepercayaan bahwa mereka memiliki suatu hubungan khusus dengan yang Illahi. Dalam konteks ini Weber mengatakan,
Istilah karisma akan diterapkan pada suatu mutu tertentu yang terdapat pada kepribadian seseorang, yang karenanya dia terpisah dari orang biasa dan diperlakukan sebagai orang yang dianugerahi dengan kekuasaan atau mutu yang bersifat adiduniawi, luar biasa, atau sekurang-kurangnya merupakan kekecualian dalam hal-hal tertentu.[10]

Kekuasaan tradisional berlandaskan pada suatu kepercayaan yang mapan terhadap kekudusan tradisi-tradisi serta legitimasi" status mereka yang menggunakan kekuasaan yang dimilikinya. Hubungan antara tokoh yang memiliki otoritas dan bawahannya pada dasarnya berupa hubungan pribadi. Hubungan yang terjadi dalam konteks kekuasaan tradisional ini dapat dikatakan sebagai kelanjutan hubungan keluarga. Mereka yang patuh memiliki rasa setia pribadi kepada pemimpinnya yang sebaliknya mempunyai kewajiban tertentu untuk memperhatikan mereka.
Dalam kaitan dengan kekuasaan tradisional ini, Weber membedakan atas tiga bentuk kekuasaan tradisional, yaitu: gorontokrasi, patriarkalisme, dan patrimonialisme. Kekuasaan gorontokrasi berada pada tangan orang-orang tua dalam suatu kelompok.
Kekuasaan patriarkalisme berada dalam tangan suatu satuan kekerabatan (rumah tangga) yang dipegang oleh seorang individu tertentu yang memiliki otoritas warisan. Kekuasaan patrimonial terdiri dari orang-orang yang hubungan pribadi dengan pemimpinnya.[11]
Selanjutnya Weber membedakan antara gorontokrasi, patriarkalisme, dan patrimonialisme, yaitu:
Gerontocracy and primary patriarchalism are the most elementary types of traditional domination where the master has no personal administrative staff.
The term gerontocracy is applied to a situation where so far as rule cover the group is organized at all in the hand of elders - which originally was understood literally as the eldest in actual years, who are the most familiar which secret tradition...
Patriarchalism is the situation where, within group (house hold) which is usually organized in both economic and kinship bases, a particular individual governs, who is the signated by definited rule of inherence.[12]

Ada tiga teori yang dapat menjelaskannya, yaitu: (1) teori yang dikemukakan oleh Andrain, (2) teori yang dikemukakan oleh Maswadi Rauf, dan (3) teori yang dikemukakan oleh Gramsci.
Andrain membedakannya atas kekuasaan paksaan dan kekuasaan berdasarkan konsensus. Dalam kaitan ini ia mengatakan,
Mereka yang menekankan aspek-aspek pemaksaan dari kekuasaan biasanya memandang politik dalam kerangka pergulatan dominasi dan konflik. Mereka melihat para pelaku politik mengejar tujuan-tujuan yang tidak diminati oleh keseluruhan komunitasnya. Satu pihak memperoleh keuntungan, pihak lain merugi. Sebaliknya, para analis yang menekankan aspek-aspek konsensus lebih banyak mengaitkan kekuasaan dengan usaha mengatasi perlawanan bukannya dengan kegiatan-kegiatan koordinasi. Mereka melihat para pelaku politik mengusahakan pencapaian tujuan-tujuan bersama.[13]

Tabel di bawah ini menunjukkan bagaimana sumber daya kekuasaan itu digunakan dalam upaya untuk menjamin kepatuhan.

Tabel 1.2. Kekuasaan Paksaan dan Konsensual

Tipe Kekuasaan
Cidera fisik, pemenjaraan, kematian
Memberi jalan memperoleh persenjataan
Tidak diberi pekerjaan, penerapan denda, kehilangan kontrak
Memberi jalan memperoleh kekayaan
Pengucilan, larangan memangku jabatan
Memberi jalan memperoieh wewenang dan simbol-simbol kebenaran
Hilangnya dukungan kelompok, persahabatan, popularitas
Pemberian dukungan kelompok
Pemberian informasi yang menguntungkan orang lain, penyebaran informasi yang merugikan orang lain
Penyediaan ilmu pengetahuan dan keterampilan
Sumber: Andrain, Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992, hal. 140.

Sedangkan Maswadi Rauf, meskipun dalam penjelasannya dalam konteks penyelesaian konflik, dapat juga diterapkan tentang cara-cara individu atau kelompok dalam masyarakat dalam upaya mempertahakan dan mengoperasikan kekuasaan yang dimilikinya, yaitu dengan cara persuasif dan cara koersif. Cara persuasif adalah cara-cara mempertahankan dan mengoperasikan kekuasaan melalui cara-cara musyawarah, perundingan, dan cara-cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Sedangkan cara kuersif adalah cara penggunaan kekuasaan dengan kekerasan fisik atau ancaman kekerasan fisik.
Berkaitan dengan kekerasan fisik ini Maswadi Rauf mengatakan,
Kekerasan fisik mencakup penggunaan benda-benda fisik untuk merugikan secara fisik, menyakiti, melukai atau membunuh fihak lain. Penggunaan kekerasan fisik atau ancaman penggunaannya menimbulkan rasa takut di pihak yang akan dikenai yang berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Pengaruh itu adalah berupa diikutinya keinginan pihak yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan.[14]

Sementara Antonio Gramsci mengemukakan bahwa ada dua cara kekuasaan itu dipraktekkan. Pertama, dengan praktek dominasi atau penindasan. Kedua, dengan cara hegemoni. Cara yang pertama, kekuasaan dibangun dengan cara-cara represi dan kekerasan. Seorang individu, kelompok, atau negara apabila ingin memperoleh dan atau mempertahankan kekuasaan maka ia harus mempunyai atau memiliki akses terhadap instrumen kekerasan. Sedangkan cara yang kedua, yakni hegemoni, kekuasaan diperoleh dan dioperasikan melalui kepemimpinan moral dam intelektual. Ia memperoleh dan memperaktrekkan kekuasaan dengan jalan konsensus.[15]

[1] W.A.Robson, The University Teaching of Social Sciences: Political Science, Paris, Unisco, 1954,
  hal.24, dalam Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, 1985, hal. 10.
[2] Robert M. Maclver, The Web of Government, New York: The Macmillians Company, 1961, hal. 22,
  dalam Buduardjo, ibid., hal. 35.
[3] Andrain, Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992, hal. 130.
[4] Ibid., hal. 35
[5]  Miriam Budiardjo, "Konsep Kekuasaan: Tinjauan Pustaka", dalam Budiardjo, Aneka Pemikiran
     tentang Kuasa dan Wibawa, Jakarta: Gramedia, 1984, hal. 13
[6] Ibid., hal. 13
[7] Andrain, op. cit., hal. 132.
[8] Dikutip dari Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Poliiik, Jakarta: Gramedia, 1992, hal. 85-87.
[9] Max Weber, The Theory of Social and Economic Organization, New York, Oxford University Press, 1947. Dikutip dalam Doyle P. Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid 1, Jakarta: Gramedia, 1994, hal. 232.
[10] Dikutip dari Johnson, Ibid., hal. 229.
[11] Ibid., hal. 228.
[12] Max Weber, Economic and Society, Berkeley, Los Angeles, London; University of California Press 1978, hal. 341.
[13] Andrain, op.cit., hal. 137-138.
[14] Maswadi Rauf, Konsensus Politik: Sebuah Penjajagan Teoritis, Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Tinggi, 2005, hal. 11-12.
[15] Antonio Gramsci, Selections From Prison Notebooks, London, Lawrence and Wishart, 1971. Dikutip dalam Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999. Lihat juga Roger Simon, Gagasan-Gagasan Politik Gramsci, Yogyakarta: Insist Press, 2000.